Tuesday, November 24, 2015

Road to Karawang

Dari Jakarta

Hari ini, tak seperti biasanya aku bangun lebih awal karena harus sudah di Tempo Scan Tower (TST) jam 6.30 pagi. Segera, setelah sarapan cookies yang ku beli dari Ulekan Watu hari Jumat kemarin, aku langsung menuju ke halte Duren Tiga. Tidak harus menunggu lama, bus yang mengantarku ke Halte Kuningan Timur pun tiba dan meluncur tanpa kemacetan berarti.

Sesampainya di TST, pintu samping yang biasa aku lalui masih terkunci, aku harus melalui pintu utama untuk masuk gedung. Starbucks area lobby pun masih menyiapkan diri dan belum siap terima order-an. Aku pun memutuskan untuk naik ke lantai 21, lantai di mana kantorku berada.

Di sana aku bertemu dengan Pak Agus dan Mbak Fatima yang juga akan ke Karawang bersamaku nanti. Setelah menyiapkan dokumen-dokumen, segera kami turun ke lobby lagi untuk menemui Bu Evi, konsultan kami untuk Focused Group Discussion (FGD). Kemudian kami segera naik mobil yang disupiri oleh Pak Rikun.

Kami segera melajukan mobil ke Stasiun Cawang untuk menjemput Mbak Siska dari RTI. Kemudian menjemput Bu Nurul di Rest Area KM. 19 di Bekasi. Genap sudah berenam plus Pak Rikun menuju ke Karawang.

Di Karawang

Sekitar pukul 8.30 kami sudah memasuki Karawang dan langsung menuju ke RSUD Karawang. Diskusi pagi dan siang ini dilakukan di salah satu ruang di RS ini. Sambil menunggu peserta FGD datang, kami berbincang-bincang beberapa hal ringan. Tak terasa sudah pukul 10 lewat, dan pesertanya masih belum lengkap 8 orang. Setelah dikonfirmasi, ternyata hanya 4 orang peserta yang positif bisa ikut FGD ini. Diskusi pun dimulai.

FGD ini dilakukan 2 kali. Pertama dengan anggota Forum Masyarakat Madani (FMM) dan yang kedua dengan Pokja. FGD dengan pokja yang hadir 6 orang, dari Dinkes, Bappeda, RSUD, PMI dan IBI. FGD ini adalah salah satu cara untuk mencari informasi tentang program yang sudah berlangsung. Apa yang sudah berjalan dan apa yang menjadi tantangan di masa depan.

Perjalanan Pulang

Sekitar pukul 15.30 kami pun kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan, kami ngobrol banyak hal. Mulai dari Purwokerto, Kemranjen, hingga Masjid Tiban dengan segala mistisnya. Karena penasaran aku pun browsing tentang gambar dan cerita Masjid Tiban ini.

Masjid Tiban terletak di Turen, Jawa Timur. Menurut artikel yang aku baca, penduduk sekitar percaya bahwa 'masjid' itu dibangun oleh jin karena pada masa pembangunan tidak pernah ada kendaraan besar seperti crane atau molen, padahal bangunan itu mempunyai 10 lantai. Dan pada saat dibuka, penduduk heran bagaimana mungkin ada bangunan setinggi itu tapi tanpa diketahui proses pembangunannya. Hal ini cukup membuat penasaran. Kalau ke Turen, harus disempatkan melihat langsung nih.

Namun pembicaraan menjadi tidak nyaman, karena aku harus menahan kencing. Cukup lama, maka aku hanya bisa mengurangi gerakan dan bicara. Hingga akhirnya di daerah UKI, ada pool taksi, dan aku pun mampir ke toiletnya. Ah... lega!

Teman-teman yang lain sudah turun sesuai dengan tempat terdekat untuk mengakses moda transportasi yang mengantarkan mereka ke rumah mereka masing-masing. Aku tetap menemani Pak Rikun hingga TST. Sampai TST hari sudah mulai gelap. Segera aku berpamitan dan menuju halte Kuningan Timur.

Tak harus lama menunggu bus, akhirnya datang juga. Sekitar 15 menit setelah itu, aku sudah sampai di halte Duren Tiga. Segera aku menuju kosku untuk melanjutkan rencana lainnya.




Thursday, April 29, 2010

Road to Curug Cimahi






Tak terencana dengan cukup baik, itulah yang sering kulakukan. Seperti halnya kali ini, saat kuputuskan untuk datang ke Curug Cimahi. Hanya berbekal informasi yang kudapatkan pada saat googling. Itupun hanya memastikan bila memang lokasinya di Cimahi.

Berawal dari menonton film Air Terjun Pengantin yang dibintangi Tamara Blezensky, aku mendapatkan informasi dari salah seorang temanku bila lokasi air terjun itu berada di Cimahi maka aku mencoba mencari tahu kebenarannya.

Kulaju motorku ke arah Cimahi. Kota kecil di sebelah barat Kota Bandung. Hanya sekitar 30 menit jarak tempuhnya. Di Cimahi, mau tak mau aku harus bertanya mengenai jalan menuju ke Curug Cimahi. Hanya dua kali bertanya, akhirnya kudapati lokasi curug itu.

Ternyata lokasi Curug itu tidak berada di Kota Cimahi, tepatnya di daerah Cisarua. Bertempat di dekat terminal kecil angkutan kota, pintu masuknya tidaklah megah. Tempat penjual tiket masuknya pun hanya menyerupai sebuah pos satpam. Dengan tiga ribu rupiah per orang harga tiketnya.

Untuk mencapai curug itu, diperlukan waktu sekitar 30 menit berjalan ke bawah. Cukup melelahkan medan yang harus ditempuh. Bila beruntung bisa melihat dan bertemu beberapa monyet yang hidup di lokasi itu. Curug tersebut tidak banyak dikunjungi orang, mungkin karena jalannya tidak mudah dilalui dan melelahkan.

Beberapa anak SMA yang beramai-ramai untuk berenang di sana atau mungkin pasangan kekasih saja yang berkunjung ke sana. Di dalam lokasi juga dapat ditemui beberapa pondok yang menjual makanan dan minuman.

Curugnya tampak indah meskipun airnya tidak begitu jernih. Berada di lembah yang banyak ditumbuhi pohon yang tampak hijau. Airnya turun dengan tidak merata sehingga menampakkan keindahan gelombang di badan airnya. Beberapa batu besar berada di aliran sungai tak jauh dari pusat jatuhnya air. Cukup bagus untuk berfoto-foto.

Tidak jauh dari pusat air terjunnya, terdapat beberapa bangunan di mana orang bisa menyantap makanan seadanya, seperti mie instan, ketan bakar, dan beberapa makanan lainnya. Lumayan buat mengisi perut yang sudah mulai kosong.

Setelah puas dengan memandang air terjun dan mengambil beberapa foto di dekat air terjun itu, aku pun segera pulang. Baru beberapa langkah naik ke arah pintu masuk, hujan pun turun. Tidak begitu deras tapi cukup bisa membuat baju basah bila diteruskan jalan. Berteduh adalah pilihan yang tepat. Waktu berteduh ternyata tidak lama. Hanya beberapa menit, hujan pun mereda. Kembali kulangkahkan kakiku menaiki anak – anak tangga menuju pintu masuk tadi.

Sesampainya di luar, tak berselang lama aku pun kembali menuju ke kostku. Rasanya sudah begitu lelah. Ingin segera tidur.

Sunday, January 11, 2009

A Journey to Curug Cipendok







-->
Akhir bulan Desember 2008 cukup membuatku sibuk dengan laporan proyek yang harus aku selesaikan. Pikiranku benar – benar terkuras untuk memikirkannya. Saat Hari Minggu tiba, aku pun melakukan hal yang sudah agak lama tidak aku kerjakan. Ke tempat cucian motor. Motorku sudah begitu kotornya.

Sambil menunggu motorku yang sedang dicuci, aku mengirim sms ke Jojo. Aku ingin main ke tempatnya. Namun dia juga ternyata sedang bosan, malah dia ingin main ke rumahku. Akhirnya kita memutuskan untuk main ke rumah Dista. Segera saja aku menelpon Dista, dan bilang kalau aku dan Jojo akan bertamu ke rumahnya. Dan Dista pun menyatakan persetujuannya. Kami janjian jam 10 siang itu di rumah Dista.

Motorku sudah selesai dicuci. Sudah kelihatan jauh lebih bersih dari sebelumnya. Waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Dan aku pun melajukan motorku yang baru dicuci itu untuk berkeliling. Melewati kampusku, yang aku baru sadar pada hari itu masih ada rangkaian acara Reuni Akbar. Hm, aku tidak ikut acara reuni itu. Aku hanya tersenyum memandang kampus. Tak jauh setelah melewati kampusku, tak sengaja aku melihat Jojo memacu motornya berlawanan arah denganku. Segera aku berbalik arah dan mengejarnya.

Aku berhasil menyusulnya. Untuk menunggu jam 10 kami pun melajukan motor bersama keliling kota, Jojo mencari peralatan buat motornya, namun kami belum mendapatkannya setelah mampir ke beberapa bengkel dan toko. Aku juga mencari stiker untuk helm baruku namun rupanya penjual – penjual stiker di pinggir jalan itu belum juga berjualan. Akhirnya, kami memutuskan ke rumah Dista. Waktu sudah mendekati jam 10.

Rumah Dista tidak begitu jauh dari rumahku. Rupanya Dista belum sampai rumah. Dia tadi juga sedang mencuci motornya dan sepertinya dia masih jalan – jalan dengan sepupunya. Aku dan Jojo menunggu beberapa waktu sambil mengobrol di depan rumah. Aku cukup kenal dengan keluarganya Dista, jadi sudah tidak canggung di sana.

Kulihat di rumahnya sedang ada beberapa orang kerabat. Katanya sih dari Surabaya. Ibunya Dista sedang bersiap – siap, dengan mengenakan kebaya, yang kukira sedang fitting untuk pernikahan Inez (adik Dista yang pertama) tapi ternyata beliau mau mendatangi hajatan alias kondangan.

Akhirnya Dista muncul juga. Kami pun menuju ke ruang belakang, dekat dapur. Di sana ada sebuah lemari yang memampang foto Dista dan Inez. Aku dan Jojo agak bertanya – tanya, karena Dista di foto itu keliatan begitu . . . cantik. Beda banget dengan Dista sekarang. Kami berdua menanyakan hal itu. Sempat terlontar juga, jangan – jangan itu hanya foto rekayasa saja. Dan kami pun tertawa.

Di bawah tangga sudah terhampar buah durian. Hm, aku tidak doyan durian. Jadi aku tidak ikut pesta duriannya. Untung ada brownies dan oleh – oleh dari Bali. Havis (adik Dista yang kedua) beberapa hari sebelumnya pergi ke Bali. Jojo, Dista, Inez dan sepupunya menikmati durian itu. Sambil ngobrol sambil makan juga.

Obrolan kami pun mengarah pada satu topik. Jalan – jalan. Dista ingin pergi ke pantai. Lalu dia juga melontarkan keinginan untuk ke Pancuran Tujuh di Baturaden. Aku dan Jojo berpikir tentang tawaran itu. Lalu terbesit oleh Dista untuk pergi ke Curug Cipendok di Cilongok. Akhirnya aku dan Jojo pun setuju.

Untungnya aku membawa peralatan perjalanan jauhku, sarung tangan dan slayer buat penutup muka. Setelah beberapa menit bersiap – siap, kami (Aku, Jojo, Dista dan Inez) pun melajukan motor ke Curug Cipendok. Perjalanan ke sana sekitar 30 menit.

Aku memboncengkan Inez dan Jojo bersama Dista. Jalan masuk dari jalan rayanya cukup sepi, karena hanya jalan kecil saja. Jalannya cukup menanjak. Biasanya aku kewalahan di rute yang menanjak, tapi kali itu aku bisa mengatasinya. Sayangnya, Jojo dan Dista, tertinggal agak jauh, karena motornya mogok. Aku dan Inez sempat menunggu beberapa saat.

Daerah sekitar tempat kami menunggu masih segar, persawahan yang hijau dengan udaranya yang segar. Kulihat banyak orang yang juga menuju ke Curug Cipendok. Karena saat itu, Hari Minggu dan Libur Akhir Tahun jadi lumayan banyak yang datang ke objek wisata.

Samar – samar aku ingat sekitar tahun 2000 tepatnya satu hari sebelum lebaran, aku dan keluargaku sempat mampir ke Curug Cipendok. Saat itu keadaannya masih belum begitu terawat. Tidak ada penjual tiket masuk juga tidak ada orang yang berjualan. Jalannya pun masih ada yang belum diaspal.

Tak lama kemudian, Jojo dan Dista pun muncul. Kami pun melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian sampailah kami di tempat tujuan. Kami memarkirkan motor di area yang ada. Benar saja, kini kondisinya sudah lebih baik. Sudah ada penjual tiket masuknya, ada tukang parkirnya, ada penjual makanannya, dan ada kamar kecilnya.

Dari area parkir, kami masih harus berjalan lagi, naik turun. Pohon – pohon masih rapat dengan beraneka ragam tumbuhan dan lumutnya. Dan akhirnya kita bisa melihat Curug Cipendok. Air Terjun yang cukup besar dan tinggi. Kami mengambil gambarnya dengan kamera digital yang dibawa oleh Dista dan juga kamera dari HP-ku.

Kami memutuskan agak mendekati air terjun itu dan mengambil gambarnya. Tapi kami tidak benar – benar mendekat, karena kami tidak membawa pakaian ganti, pastinya bila mendekatinya baju kami akan menjadi basah oleh air terjun yang terbawa angin.

Kami memutuskan untuk turun ke sungai untuk merasakan dinginnya air di sana. Dengan sedikit susah payah, kami menuruninya. Ternyat objek wisata ini juga menjadi incaran pasangan muda – mudi untuk memadu asmara. Dan beberapa pasangan sepertinya agak terganggu dengan kedatangan kami yang hanya bermain – main dan berfoto – foto di sana. Iseng saja kami juga mendekati tempat – tempat yang sedang dijadikan tempat pacaran oleh beberapa pasangan muda – mudi lainnya.

Setelah puas bermain – main, kami memutuskan untuk kembali. Sebelum sampai area parkir, kami sempatkan untuk beribadah dulu. Dan kami kembali melajukan motor ke Purwokerto. Kali ini kami menuju ke Tantene, rumah makan yang menunya ayam bakar dan goreng di dekat UNWIKU.

Kami pesan Ayam goreng dan es teler. Di sana sambil menunggu makanan yang sudah dipesan, kami main kartu Uno yang sudah cukup sering kami mainkan. Senang. Itu perasaanku. Setelah penat beberapa hari sebelumnya, syukurlah ada kesempatan bersama teman – teman mengujungi objek wisata alam yang cukup menghibur dan menyegarkan.

Aku dan Jojo berpamitan pulang setelah mengantarkan Dista dan Inez ke rumahnya. Perjalanan ini, menjadi perjalanan penutup di tahun 2008. Semoga di tahun 2009, akan banyak perjalananku yang lebih indah dengan semangat yang lebih kuat.


10 Januari 2009

Sunday, June 15, 2008

Road to Cilacap

Sosialisasi di Lapas Cilacap

Masjid Agung Cilacap
Jalan di daerah Kalisabuk

Aku masih mengantuk saat itu. Senin tanggal 9 Juni 2008. Pagi sekitar jam delapan kurang sudah kulaju motorku ke Cilacap.

Tak seperti pekan – pekan sebelumnya, di mana aku biasa ke Cilacap setiap Rabu. Tugas kerjaku. Karena LSM tempat aku bekerja mencakup dua wilayah: Kabupaten Banyumas dan Cilacap.

Ku lewati lagi jalan yang berliku – liku. Terkadang terlihat pemukiman, kadang hutan, kadang sungai, kadang persawahan. Entah sudah berapa kali aku melewatinya. Meskipun sendirian, tapi tetap terasa aman.

Sampai di Cilacap sekitar pukul sembilan lebih lima belas menit. Aku lalu menuju ke Lapas Cilacap. Tempat di mana aku akan melakukas tugasku, sosialisasi. Lapas Cilacap berada di sekitar alun – alun Cilacap. Ketika pintu gerbang lapas terbuka, bisa kulihat sipir – sipir. Melewati pintu kedua, kulihat beberapa sipir sedang menonton TV. Aku tak ingat apa acaranya saat itu. Aku tak peduli. Kemudian, di sisi lain, ku temui beberapa napi sedang berdiri di samping tembok. Mereka sudah menunggu kami.

Sosialisasi semacam ini bukan yang pertama kalinya. Jadi aku tidak begitu grogi. Yang agak membuatku khawatir adalah materi yang akan aku sampaikan. Aku belum mempelajarinya!

Salah seorang temanku aku minta untuk presentasi terlebih dahulu. Dia membawakan materi yang aku buat. Tidak terlalu rumit. Karena masih dasarnya saja. Sedangkan aku mempelajari materi yang akan aku sampaikan. Seharusnya teman kerjaku yang lain yang menyampaikan materi tersebut, tapi beliau tidak dapat ke Cilacap karena sedang sakit.

Acara sosialisasi berjalan lancar. Tidak ada hambatan yang berarti. Dihadiri oleh empat puluh sembilan napi dan tiga orang petugas.

Selesai melakukan tugas di lapas untuk kali itu.

Sebelum kembali ke ’kantor’ kami sempat ngobrol dulu di depan lapas, di pinggir alun – alun. Melepas penat sebentar. Kemudian terdengar suara Adzan.

Setelah beberapa menit. Aku pun menuju ke ’kantor’. Untuk beristirahat sebentar serta melakukan koordinasi dengan teman – teman yang bertugas di area Cilacap.

Setelah Ashar, aku kembali ke Purwokerto. Aku mencoba untuk sedikit menikmati perjalananku kali ini. Meski dengan perut sedikit kosong karena aku belum makan sejak pagi. Aku hanya makan snack saat sosialisasi tadi.

Mencoba mengamati jalanan. Yang ternyata sudah semakin parah. Banyak lubang di beberapa tempat. Terutama di Cilacap. Aku sedikit bertanya – tanya dalam hati—“Kok Cilacap dengan notabene sebagai kota dengan UMR paling tinggi di Jawa Tengah, jalanannya masih sering rusak seperti itu? Apakah tidak bisa memperbaiki jalan dengan kualitas aspal yang lebih baik? Atau mungkin menggunakan semen saja, khan di Cilacap ada perusahaan semen yang cukup ternama?”

Kutemui lagi jalan dengan kanan – kirinya persawahan, hutan, sungai dan pemukiman. Terasa nyaman. Kadang terbesit olehku, ingin rasanya hidup nyaman dan damai di daerah pedesaan, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Kusempatkan diri untuk mengabadikan gambar jalan yang berada di tengah – tengah sawah. Pemandangan yang menentramkan.

Akhirnya, sampai juga ke Purwokerto. Kupandangi pertokoan yang mulai ramai dengan pembeli. Trotoar alun – alun purwokerto yang mulai dipadati oleh pedagang kaki lima. Kuarahkan motorku menuju ke utara. Samar – samar kulihat gunung Slamet yang gagah di kejauhan sana.

Sunday, June 1, 2008

Road to Kroya

Siang itu, saat aku sedang akan menikmati makan siangku bersama Ririn, tiba – tiba dering suara handphone-ku mengagetkanku. Suara di ujung sana, Pak Dwi, beliau mengabarkan jika seorang sahabat telah berpulang….

Bagus Samanto.

Aku ingat, pertama kali aku kenal dia, saat pelatihan Konselor VCT dan Managemen Kasus di Ungaran. Meski kita sering ketemu di Purwokerto, tapi sebelumnya kita belum pernah ngobrol. Hari itu banyak yang kita bicarakan. Namanya juga kenalan. Mencoba menyelami diri masing – masing.

Pelatihan saat itu menjadikan kita teman satu kamar. Bersama Mas Eko dari PKBI Semarang.
Tidak banyak yang aku tahu dari Bagus. Namun aku sudah merasa akrab dengannya.
Itu berbulan – bulan yang lalu. Tepatnya sekitar September tahun lalu.

Ingatanku paling baru, adalah hari Jumat kemarin. 23 Mei 2008. Dia datang ke kantor. Dan sempat Jumatan bareng. Tapi hari Minggu, aku sudah mendapat kabar bahwa dia telah pergi, selamanya. Kaget dan tak percaya.

Maka siang itu juga, aku mencari kebenarannya. Dan aku akhirnya percaya. Kulaju motorku ke Kroya. Bersama Pak Dwi, Mas Nanung, dan Ririn juga tentunya.

Melewati jalan – jalan yang jarang sekali kulewati. Persawahan yang menawan dengan pemandangan bukit – bukit di kejauhan. Seakan – akan menemani kita ke Kroya.

Mungkin aku tak begitu berarti bagi kehidupan seorang Bagus. Tapi aku merasa, bahwa dia adalah salah satu orang yang membuka mata dan hatiku pada dunia yang, dulu, pernah aku anggap menakutkan.

Selamat Jalan Kawan! Semoga kau mendapat tempat terindah di sisi-Nya. Amin.

Aku akan mencoba meneruskan perjuangan dan menghidupkan semangat baikmu!

To Cirebon with Sadness

Aku kira aku tidak akan melakukan perjalanan ke luar kota lagi setelah kemarin ke Jogja di bulan ini. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.

Aku kembali menyusuri jalan dari Purwokerto hingga ke Cirebon. Sendirian. Naik sepeda motor. Dengan perasaan sedih aku ke sana.

Keponakanku. Anak Mbak Putri, Nazmi Fathadina meninggal. Pagi itu, 14 Mei 2008, sekitar jam 10 pagi. Pertama aku tahu kabar ini ketika adikku mengirim sms padaku. Dion berkata kalo dia akan ke Purwokerto. Aku kaget. Dion seharusnya langsung ke Cirebon. Itu yang mama inginkan. Dion ke Cirebon. Lalu aku menyuruhnya langsung ke Cirebon saja dan memberitahunya kalau papa sedang dalam perjalanan ke sana karena dikabari bahwa Nazmi sedang sakit.

—Nazmi udh g da mas. Tiket k crbn mhl. Q k pwt ja..insyaAlloh..—

Sms dari Dion tadi membuatku bingung untuk beberapa saat. Lalu aku langsung mengirim sms ke mama. Menanyakan tentang keadaan Nazmi.

—Nazmi br sj meninggal. Kamu cpt plng ke rmh. Tunggu brita dr mama.—

Beberapa detik aku terdiam. Tak percaya dengan isi sms itu. Beberapa menit kemudian Mbak Putri menelponku. Dengan isak tangisnya, dia memberitahu kabar itu. Sedih.

Padahal sekitar jam 3 pagi hari itu, Mbak Putri menelponku dan aku mendengar suara tangis Nazmi. Memilukan. Nazmi dari malam rewel, nangis terus, begitu katanya. Akhirnya papa memutuskan paginya akan langsung ke Cirebon. Sekitar jam 5.30 mama aku telpon. Mama memberitahu Nazmi sedang dibawa ke rumah sakit.

Sekitar jam 8 pagi papa berangkat ke Cirebon. Naik motorku.

Setelah mama memberitahuku, mama memintaku menelpon beberapa kerabat. Mengabarkan berita lelayu itu.

Sorenya, setelah aku menyiapkan semua, aku menuju ke Cirebon naik motornya papa. Sampai di sana sekitar setelah maghrib. Hari sudah gelap. Dan kudapati beberapa kerabat dari Tegal sedang di depan rumah. Juga Mbak Putri dan Mas Prio. Ada kesedihan yang mendalam di tatapan mereka. Begitu pula mama. Wajahnya sayu, ada bekas – bekas tangis di raut wajahnya.

Dan aku tak mau banyak bicara. Aku juga sedih. Meskipun tak ada tetes air mata saat itu.

Selamat tinggal Nazmi, keponakan cantikku... Om Batman sayang kamu...

(2300508)

Road To JOGJA …

Aku dan Farid, siapa yang rakus?
makan sate di Ambal

Perjalanan ke Jogja kali ini sedikit berbeda. Kalau biasanya aku tempuh menggunakan kereta api, kali ini aku naik motor ke sana. Bersama Epul dan Farid. Meski dari kami bertiga tidak ada yang benar – benar paham jalan menuju ke jogja maupun jalan – jalan di Jogja tapi kami tetap semangat ke sana.


Kali ini, tujuanku ke Jogja adalah mengambil kamera digital di Bu Nusya—adik papaku. Kamera ini aslinya punya Budhe Ayik—budheku yang tinggal di Tokyo. Lumayan, setelah kemarin dapat warisan Laptop, sekarang dapet warisan kamera digital !!


Perjalanan menuju Jogja kita tempuh dengan mengambil beberapa jalur alternatif. Alasan pertama adalah untuk menghindari adanya cegatan dari polisi. Karena saat itu Epul belum punya SIM! Dan aku dan Farid agak deg – degan karena sempat ada beberapa kali razia lalu lintas, namun syukurlah...kami tidak dihentikan saat razia tersebut. SELAMAT deh !!


Tujuan pertama setelah berada di Jogja adalah ke SHOPPING. Untuk pesan buku. Dilanjutkan mencari makan siang. Kami sempat jalan – jalan mencari tempat makan. Akhirnya, kita makan di dekat situ, Nasi Gulai. Lumayan murah...


Setelah itu, kita menuju ke JaKal...pakai acara muter – muter gak karuan... karena aku juga bingung...untunglah akhirnya nyampe juga. Sesampainya di rumah Bu Nusya, kami ngobrol banyak hal. Bu Nusya sedang menulis novel saat itu. Dia meminta pendapat kami tentang prolog dari novelnya.


Kami ngobrol hingga malam sekitar jam 8. Setelah itu, kami putuskan untuk jalan – jalan. Dan kami habiskan sekitar 1 jam untuk mencari sebuah tempat bernama KINOKI. Kami kira di sana masih ada komunitas buku tapi malam itu tidak kami temui. Aku agak merasa salah masuk tempat, I’m not comfort to that kinda place!!


Setelah dari tempat itu, kami kembali ke rumah Bu Nusya. Mengistirahatkan badan setelah perjalanan panjang kami.....


Keesokan harinya, setelah sarapan di warung soto khas Jawa Timur di Pasar Kolombo, kami berpamitan. Kami menuju ke shopping lagi untuk mengambil buku yang telah dipesan kemarin. Rupanya banyak juga...


Perjalanan kembali ke Purwokerto, kami sempatkan berhenti di Ambal. Mencicipi sate ambal. Kami juga sempat berfoto – foto di sana. Seharusnya kami sudah sampai di Purwokerto pukul 7 malam. Tapi karena ban motorku bocor di Sumpiuh dan berulang di Kedung Pring dan Buntu, kami baru sampai pukul 10 malam. Benar – benar perjalanan yang melelahkan !!!